1. Latar Belakang dan Periodisasi Islam di India
- Konsep Daulah Mughal: Kerajaan Islam yang berdiri di Semenanjung India pada abad ke-16 M (wilayahnya kini mencakup dua negara modern: India dan Pakistan).
- Posisi di Dunia Islam: Merupakan daulah termuda di antara Tiga Kerajaan Besar Islam (Utsmani, Safawiyah, Mughal). Berdiri 25 tahun setelah Daulah Safawiyah di Persia.
- Akulturasi Budaya: Peradaban Mughal memadukan budaya Persia, seni Islam, tradisi India, dan Hindu. Menjadikan Islam agama resmi negara di tengah mayoritas masyarakat Hindu. Peninggalan arsitektur terkenalnya antara lain Taj Mahal dan Mausoleum Humayun.
- 4 Periode Sejarah Umat Islam di India:
- Sebelum Daulah Mughal (705–1526 M)
- Periode Daulah Mughal (1526–1858 M)
- Periode Penjajahan Inggris (1858–1947 M)
- Periode Negara India Sekuler (1947–sekarang)
Jalur Masuk Islam ke India Sebelum Mughal
- Daulah Umayyah: Islam pertama kali masuk lewat ekspedisi militer Muhammad bin Qasim (708–709 M) pada masa Khalifah Walid bin Abdul Malik (705–715 M).
- Daulah Ghaznawi: Pasca-disintegrasi Daulah Abbasiyah di Baghdad, Sultan Mahmud (999–1030 M) menguasai India Utara dan Pakistan. Pada 1163 M, Daulah Ghaznawi menetapkan Lahore sebagai ibu kota.
- Kesultanan Delhi (Pengaruh Ghaznawi):
- Daulah Mamluk (1206–1290 M)
- Daulah Khalji (1290–1320 M)
- Daulah Tughlaq (1320–1430 M)
2. Berdirinya Daulah Mughal (Zahiruddin Muhammad Babur)
- Silsilah Pendiri: Zahiruddin Muhammad Babur (lahir 1483 M). Ayahnya adalah Umar Sheikh Mirza (penguasa Fergana, keturunan Timur Lenk), ibunya keturunan Jenghis Khan.
- Etimologi Nama Mughal: Berasal dari pelafalan lokal kata "Mongol" di India, merujuk pada garis keturunan Dinasti Timuriyah/Mongol.
- Awal Perjalanan Babur: Mewarisi takhta Fergana pada usia 12 tahun. Menguasai Samarkand (1496 M), Kabul (1504 M), dan Punjab/Lahore (1525 M).
- Pertempuran Panipat I (1526 M): Babur mengalahkan Sultan Ibrahim Lodi dari Kesultanan Delhi. Peristiwa ini menandai resmi berdirinya Daulah Mughal. Babur menjadi sultan pertama dan menetapkan Agra sebagai ibu kota serta pusat pemerintahan.
- Pertempuran Khanwa (1527 M): Babur mengalahkan koalisi Hindu pimpinan Rana Sanga (raja Kerajaan Mewar periode 1508–1528 M dari Dinasti Sisodia). Kemenangan ini mengukuhkan kendali penuh Mughal atas seluruh India Utara.
3. Dinamika Masa Pemerintahan Humayun (1530–1556 M)
- Tantangan Internal & Eksternal: Pasca Babur wafat (1530 M), putranya, Sultan Humayun, menghadapi pemberontakan saudara-saudaranya serta dua musuh utama:
- Sultan Bahadur (Gujarat): Sempat dikalahkan Humayun hingga Mughal menguasai Gujarat, Malwa, Champane, dan pelabuhan Mandu.
- Sher Shah Suri (Bihar): Membangun kekuatan tandingan yang jauh lebih besar.
- Kekalahan dan Pengasingan:
- Pertempuran Chausa (1539 M): Humayun kalah dari Sher Shah Suri.
- Pertempuran Kannauj (1540 M): Humayun kembali kalah total dan terpaksa melarikan diri ke Persia.
- Pada masa pelarian, putra pertama Humayun (Akbar) lahir pada 15 Oktober 1542 M.
- Dukungan Safawiyah & Restorasi Takhta:
- Di Persia, Humayun diterima oleh Syah Tahmasp I dan diberi bantuan 12.000 tentara beserta logistik militer.
- Setelah 15 tahun mengembara, Humayun mengirim panglimanya, Bairam Khan, memenangi Pertempuran Sirhind (1555 M) melawan Sikandar Shah Suri (penerus Sher Shah Suri). Humayun berhasil merebut kembali Delhi dan India Utara.
- Wafat: Humayun wafat pada 1556 M. Makamnya (Mausoleum Humayun) dibangun pada 1569–1570 M atas perintah permaisurinya, Biga Begum (Hajji Begum).
4. Zaman Keemasan: Sultan Akbar (1556–1605 M)
- Awal Kekuasaan: Naik takhta pada usia 14 tahun dengan perwalian tangan kanan ayahnya, Bairam Khan.
- Pertempuran Panipat II (1556 M): Bairam Khan menumpas perlawanan Himu (jenderal pendukung dinasti Suri).
- Pemberhentian Bairam Khan (1561 M): Bairam Khan disingkirkan karena dominasi kekuasaannya dinilai berlebihan dan memaksakan pengaruh mazhab Syi'ah. Setelah Bairam Khan kalah dalam pemberontakan di Jullandur, kendali kekuasaan dipegang mutlak oleh Akbar.
- Ekspansi Wilayah Akbar: Chunar, Ghond, Ranthambore, Kalinjar, Gujarat, Surat, Bihar, Bengal, Kashmir, Orissa (Odisha), Dekkan, Gawilgarh, Narnala, Ahmadnagar, dan Asirgarh.
- Sistem Pemerintahan Militeristik:
- Akbar memerintah secara absolut.
- Struktur wilayah: Tingkat provinsi dipimpin oleh sipah salar (kepala komando), tingkat distrik dipimpin oleh faujdar (komandan).
- Struktur sipil diintegrasikan dengan jenjang kepangkatan militer; seluruh pejabat wajib mengikuti latihan kemiliteran.
- Kebijakan Sosial, Keagamaan, dan Kultural:
- Menghibahkan madrasah, perpustakaan, dan mendanai kebudayaan universal India.
- Menerapkan politik Sulakhul (toleransi universal): memperlakukan semua rakyat setara tanpa memandang suku dan agama.
- Mendukung tarekat Chistiyyah yang fleksibel terhadap akulturasi lokal.
- Membentuk ajaran sinkretis Din-i-Ilahi (Agama Ketuhanan) dengan Akbar sebagai guru besarnya, memadukan unsur Islam dan Hinduisme.
- Membangun ruang sidang khusus tamu kenegaraan di Red Fort yang dinamai Diwan-i-Khas.
5. Tiga Penerus Akbar dan Puncak Kejayaan
Tiga penguasa penerus menjaga stabilitas yang dibangun Akbar:
- Sultan Jahangir (1605–1628 M)
- Sultan Shah Jahan (1628–1658 M)
- Sultan Aurangzeb (1658–1707 M)
- Puncak Kejayaan: Dicapai pada masa pemerintahan Shah Jahan dan Aurangzeb.
- Pencapaian Wilayah: Daulah Mughal menjadi monarki terbesar di Asia Selatan yang berhasil menyatukan hampir seluruh Semenanjung India—sebuah pencapaian yang terakhir kali terjadi pada masa Kekaisaran Maurya (16 abad sebelumnya).
- Simbol Kemewahan: Ditandai dengan tulisan di Fort Delhi: "Seandainya ada surga di dunia, di sinilah tempatnya."
6. Fase Kemunduran dan Disintegrasi Wilayah (Pasca-1707 M)
Kemunduran bertahap berlangsung selama ±150 tahun pasca-wafatnya Sultan Aurangzeb (1707 M).
A. Kebijakan Ideologis Aurangzeb yang Kontraproduktif
- Aurangzeb menerapkan Puritanisme (ideologi pemurnian ajaran Islam yang menolak akulturasi budaya lokal).
- Bertolak belakang dengan kebijakan Sulakhul milik Akbar, puritanisme ini memicu luka sosial dan pemberontakan dari kelompok Hindu di India Tengah serta kaum Sikh di India Utara.
B. Krisis Suksesi dan Serangan Eksternal
- Bahadur Shah (1707–1712 M): Wafatnya memicu perang saudara; takhta berganti tiga kali hanya dalam tempo satu tahun.
- Farukh Siyar (1713–1719 M): Memerintah dalam instabilitas politik tinggi.
- Muhammad Shah (1719–1748 M):
- India diserang oleh Nadir Shah (pemimpin suku Asyfar dari Persia yang sebelumnya menumbangkan Safawiyah). Pasukan Mughal kalah dan terpaksa membayar upeti besar.
- Sempat terbantu oleh wazir Chin Qilich Khan (Nizam Al-Mulk) periode 1722–1732 M dengan sokongan Maratha. Namun pada 1732 M, Nizam Al-Mulk meninggalkan Delhi dan memisahkan diri ke Hyderabad.
C. Disintegrasi Wilayah (Munculnya Penguasa Lokal Independen)
- Hyderabad: Melepaskan diri di bawah Nizam Al-Mulk.
- Maratha: Dikuasai oleh Shivaji.
- Oudh: Dikuasai oleh Sadat Khan.
- Bengal: Dikuasai oleh Syuja' Al-Din.
- Rajput: Dikuasai oleh Jai Singh dari Amber.
- Punjab: Dikuasai oleh kelompok Sikh.
7. Runtuhnya Daulah Mughal dan Dominasi Kolonial Inggris
- Invasi Afghan (1761 M): Wilayah Mughal diserang oleh Ahmad Khan Durrani. Sejak itu, Sultan Shah Alam (1760–1806 M) berada di bawah dominasi Afghan meski tetap memakai gelar sultan.
- Intervensi EIC (East India Company):
- Perang berkepanjangan memaksa Shah Alam menyerahkan wilayah Oudh, Bengal, dan Orissa kepada EIC.
- Aliansi Sikh-Hindu menundukkan wazir Mughal (Najib Al-Daula), membuat Delhi diduduki oleh Dinasti Scindia dari Maratha.
- Pada tahun 1803 M, tentara Inggris mengalahkan Scindia dan mengambil alih kendali militer atas Delhi.
- Sultan Akbar II (1806–1837 M): Memberikan konsesi ekspansi usaha kepada EIC dengan kompensasi EIC menjamin tunjangan hidup sultan dan keluarga istana. Kekuasaan politik praktis Mughal telah hilang.
- Sultan Bahadur Shah II (1837–1858 M) & Pemberontakan 1857:
- EIC menerapkan pajak teramat tinggi kepada rakyat akibat salah kelola anggaran.
- Mei 1857 M: Meletus perlawanan besar tentara dan rakyat India melawan EIC; Bahadur Shah II dijadikan lambang perlawanan moral.
- Pasukan Inggris berhasil memadamkan pemberontakan secara brutal, membersihkan kota Delhi, dan merusak tempat ibadah.
- Akhir Daulah Mughal (1858 M): Inggris memecat dan mengasingkan Bahadur Shah II dari istana. Daulah Mughal resmi bubar, dan India sepenuhnya jatuh ke kolonialisme Imperium Britania.
8. Faktor Penyebab Kehancuran Daulah Mughal
Faktor Internal (Kondisi Mughal)
- Stagnasi Militer: Berhentinya regenerasi dan modernisasi militer. Angkatan laut Mughal tidak berdaya melawan operasi laut Inggris, sementara angkatan darat tidak terlatih mengoperasikan persenjataan modern.
- Kemerosotan Moral Elite: Gaya hidup mewah, hedonis, dan pemborosan kas negara di kalangan keluarga istana.
- Konflik Antaragama Akibat Puritanisme: Kebijakan pemurnian agama Aurangzeb yang kaku merusak stabilitas sosial dan memicu pemberontakan etnis/agama (Hindu dan Sikh).
- Pewaris Takhta yang Lemah: Para penguasa di fase akhir tidak memiliki kapasitas politik maupun militer untuk memimpin kerajaan besar.
Faktor Eksternal (Perkembangan Bangsa Eropa)
- Saat umat Islam terjebak dalam perang suksesi kekuasaan internal, bangsa Eropa (Inggris, Portugis, Belanda, Prancis, Spanyol) fokus mengembangkan sains dan teknologi—yang semula mereka serap dari peradaban Islam klasik (ilmu kedokteran, kimia, sejarah, pertambangan).
- Revolusi Industri di Eropa memicu ekspansi imperialisme dengan semboyan 3G:
- Gold: Mencari keuntungan dagang sebesar-besarnya; membeli bahan baku industri dari daerah jajahan dengan harga murah dan menjual produk jadi industri dengan harga tinggi.
- Glory: Memperluas kejayaan dan pengaruh dominasi kekuasaan politik wilayah.
- Gospel: Misi penyebarluasan agama Kristen ke wilayah jajahan.
9. Kronologi Kunci (Timeline) Materi Ujian
| Tahun | Peristiwa Sejarah |
|---|---|
| 708–709 M | Awal masuknya Islam ke India via ekspedisi Muhammad bin Qasim (Umayyah). |
| 999–1030 M | Sultan Mahmud (Daulah Ghaznawi) menguasai India Utara (Lahore jadi ibu kota th. 1163 M). |
| 1496 & 1504 M | Babur merebut Samarkand (1496 M) dan menduduki Kabul (1504 M). |
| 1525 M | Babur menduduki Lahore dan menguasai Punjab. |
| 1526 M | Pertempuran Panipat I: Babur mengalahkan Ibrahim Lodi; Daulah Mughal resmi berdiri. |
| 1527 M | Pertempuran Khanwa: Babur menundukkan Rana Sanga dari Mewar. |
| 1530 M | Babur wafat; Sultan Humayun naik takhta. |
| 1539 M | Pertempuran Chausa: Humayun dikalahkan oleh Sher Shah Suri. |
| 1540 M | Pertempuran Kannauj: Humayun kembali kalah dan mengungsi ke Persia (Safawiyah). |
| 1542 M | Kelahiran Akbar di pengasingan (15 Oktober). |
| 1555 M | Pertempuran Sirhind: Pasukan Humayun dipimpin Bairam Khan merebut kembali Delhi. |
| 1556 M | Humayun wafat; Akbar naik takhta (usia 14 tahun); Pertempuran Panipat II menumpas Himu. |
| 1561 M | Akbar menyingkirkan Bairam Khan dan mengambil kendali mutlak pemerintahan. |
| 1556–1605 M | Masa kepemimpinan Sultan Akbar (awal zaman keemasan Mughal). |
| 1605–1628 M | Masa kepemimpinan Sultan Jahangir. |
| 1608 M | Masuknya kekuatan dagang Barat/Inggris ke wilayah India. |
| 1628–1658 M | Masa kepemimpinan Sultan Shah Jahan (puncak peradaban seni arsitektur). |
| 1658–1707 M | Masa kepemimpinan Sultan Aurangzeb (wilayah Mughal mencapai batas terluas). |
| 1739 M | Serbuan Nadir Shah dari Persia melumpuhkan pemerintahan Muhammad Shah di Delhi. |
| 1761 M | Serbuan Ahmad Khan Durrani dari Afghan ke wilayah Mughal. |
| 1803 M | Pasukan EIC mengalahkan Dinasti Scindia dan menguasai Delhi secara militer. |
| 1806–1837 M | Masa kepemimpinan Sultan Akbar II (kekuasaan formalitas di bawah kendali EIC). |
| Mei 1857 M | Meletusnya pemberontakan rakyat India melawan EIC di bawah lambang Bahadur Shah II. |
| 1858 M | Bahadur Shah II diasingkan; Daulah Mughal resmi runtuh dan penjajahan langsung Inggris dimulai. |